Selasa, 09 Juni 2015

Curug Cilember Bogor

      Assalamualaikum. Hai hai.. Ini blog pertama yang aku tulis sebagai penulis pemula. Tentang pengalaman liburan aku(Sylviani Oktavia) & sahabatku Dwi Martha di Curug Cilember yang biasa disebut dengan curug 7 karena ada 7 curug yang ada disana. Curug Cilember berada di Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.
      Niat ingin ke Curug ini sudah lama aku rencanakan bareng temen-temen. Berusaha keras mengumpulkan pundi pundi rupiah setiap hari untuk pergi kesana (niat benget -_-). Karena tidak membutuhkan biaya sedikit untuk kesana apalagi bagi kami, anak sekolahan (15 ribu/hari.bhahak). Setelah beberapa bulan uang terkumpul akhirnya matang juga persiapan untuk pergi kesana. Kami berempat sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari alamat jelas, beberapa angkutan yang harus kita naiki untuk kesana & kami mendapat info tersebut dari hasil mengintip blog orang. Tinggal H-1 nya untuk ke Bogor. Huraaaa.. 
      Pada malam harinya 2 temanku Ela & Vitria memberi kabar bahwa dia tidak dibolehkan untuk ke Bogor oleh orangtuanya.. huuaahhhh sakiitt hati ini… Gagal deh semuanya. Akhirnya aku & Dwi yang berniat kesana tapi dipending jadi pada hari Jumat, 3 April kami (Aku & Dwi ) kesana. 
      Dengan bermodal tekad yang kuat, mulut yang tak pernah capek bertanya & google maps, kami mantap untuk pergi kesana. Wehweh berani banget ya..
      Aku berangkat dari rumah pukul setengah 6 pagi dari Pinang Ranti aku naik angkot KR jurusan Pondok Gede ketemuan sama Dwi didepan Plaza Pondok Gede. Kamipun naik angkot 02 ke Stasiun Bekasi. Sudah sampai di Stasiun Bekasi kami naik kereta ke arah Bogor setiap kami kebingunan, kami selalu berdorong-dorong satu sama lain untuk bertanya gini nih “lu aja sonoh yang Tanya.” “engga ah lu aja sonoh.” Begitu seterusnya & akhirnya kadang salah satu dari kami ada juga yang akhirnya mau berkepo-kepo ria sama orang sekitar. Wuiihhh akhirnya kami sampai di Stasiun Bogor. Dilanjutkan dengan menaiki angkot 02 turun di Sukasari. Dari Sukasari naik angkot warna biru jurusan Cisarua turun dijalan Hankam.
      Saat menaiki angkot ke arah Cisarua kami sempat kesasar loh. Udah abang angkotnya mukanya sangar banget lagi. Takuuuttt. Padahal nih ya aku tuh udah bilang, nanti aku minta diturunin di jalan Hankam. Tapi setelah lama di angkot, kamipun mulai curiga. Aku berbisik ke Dwi “Wi, perasaan jauh banget ya? Kelewat nggak sih ?”aku melihat wajahnya yang mulai lelah. “Ngga tau, coba Tanya”.sambil melirik supir. “Ngga ah lu aja yang Tanya.”.”Ah. Lu aja yang Tanya.”. Huaaahh dorong-doronganpun mulai terjadi. Lagi & lagi.
      Akhirnya aku tanya & abangnya bilang katanya dia ga tau jalan Hankam. Haaahhh kami syook ngga ketulungan sampai kami pingsan seketika bagaikan nyamuk habis di semprot (hahaha lebay banget yak). Aku akhirnya cerita ke abangnya & kasih tau alamat jelas curug itu. Nafas lega itu datang juga huff. Abangnya tau ternyata. Ehh walaupun sangar tapi abangnya baik loh. Mau nganterin kami sampai di depan pintu masuk curugnya.
     Jreeeeng aku jingkrak jingkrak akhirnyaaaa setelah 5 jam perjalanan kami sampai juga di Curug Cilember. Ini foto di pintu masuk. Untuk masuk, kami membayar tiket seharga Rp 13.000,00/orang.
Ini foto saat depan pintu masuk
 
      Kamipun mulai memasuki kawasan yang rindang itu. Kami mulai menapaki batu batu untuk menuju curug yang ke 7. Saat kami dalam perjalan ke curug 7, terdapat beberapa penjual makan & minuman. Tapi kami tidak sedikitpun tertarik.hihihi karena ambisi sudah sangat kuat untuk berbasah-basah ria dibawah derasnya air terjun.
Percikan air terjun mulai terasa saat kami sudah mulai semakin mendekati curug yang pertama. Waaah subhanallah indahnya.
      Airnya dingin sekali gaess. Brrrrrrrr..... Sejuk banget. Ada beberapa keluarga, dan sekelompok anak muda yang berkunjung kesini. Juga wisatawan asing. Tempat ini juga banyak dijadikan sebagai foto preweeding.

      Yang bikin aku nyeess itu adalah saat melihat pasangan bercanda berdua di bawah air terjun. “Wi, kita punya pacar ngga sih ?” aku meratapi kesedihan. Wakakakak alay banget. “Ngga ada.!” Singkat banget iiih Dwi mah. Dwi sibuk memasang tongsis di hapenya. Kami akhirnya beralay alay berdua, ada yang ngeliatin sinis loh. Hahaha kami tak pedulikan.
     Setelah puas bermain-main air, selanjutnya kami kepo sama curug yang ke 6. Ke curug yang satu ini butuh perjuangan bahkan lebih dari perjuangan para pahlawan Indonesia menghadapi penjajah Belanda (Wkwkwk Kidding guys.). Jalannya licin, terjal & parahnya si Dwi kepleset pas pulang dari curug 6 itu(hahahaha,maap Wi gw ketawa.:D). Ini foto di curug ke-6 :
Ga tau siapa tuh orang dibelakang aku. Hahahaa 

 
Haripun sudah semakin sore, yang kami sayangkan kami tidak dapat melewati semua curug yang ada disini.Akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Jakarta. Melewati rute sebaliknya. Kami sampai di Jakarta pukul 09.30 malam. Perutpun berdemo minta diisi. Aku & Dwi mampir di salah satu warung nasi goreng depan Tamini Square. Setelah kenyang makan akhirnya kami pulang kerumah masing-masing & beristirahat. Pengalam ini takkan pernah kulupa. terimakasih sahabat & sampai jumpa Curug Cilember.

  See you next time..

  Terimakasih sudah menyempatkan membaca blog saya yang masih super berantakan ini. Hehehe. Wassalamualaikum.

Monumen Pancasila Sakti



                “Hah ? Monumen Pancasila ? Mau ngapain Vi, Cuma gitu-gitu doang. Baunya amis lagi.” Begitulah respons Dwi saat aku mengajaknya untuk berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti yang berada di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Kata gitu-gitu aja & bau amis membuatku semakin ingin tahu tentang tempat sejarah ini. Aku terus mendesaknya agar ia mau menemaniku pergi kesana. Dwipun menyerah, ia akhirnya mau menemaniku untuk kesana disertai dengan Ela yang mendengar perbincangan kamipun akhirnya ikut merespon recana kecil ini.
                Mengapa disebut rencana kecil ? Karena ini museum sejarah paling dekat dengan tempat tinggalku yang sekarang. Namun, aku belum pernah sekalipun mengunjunginya. Untuk mengunjungi wisata museum sangat susah bagiku, bukan susah untuk mengunjunginya, tetapi susah untuk mengajak orang menemani.
                Minggu pagi 7 Juni 2015, tepat pukul 7 pagi aku sudah tiba di jalan Lubang Buaya. Aku menunggu Dwi dipinggir jalan itu. Pertama kami akan menghadiri kegiatan olahraga di lapangan 81, tidak terlalu jauh dari tempat aku menunggu Dwi. Teman-teman datang dengan menggunakan pakaian selayaknya untuk olah raga. Tapi aku, Dwi & Ela dengan rapinya menggunakan baju pergi. Kami diwajibkan berlari keliling lapangan sebanyak 2 putaran sebelum akhirnya kami pergi ketempat tujuan selanjutnya. Mounumen Pancasila Sakti.
                Kami melanjutkan niat utama kami dengan masuk ke dalam Monumen. Biaya umum yang dikenakan sebagai biaya masuk sebesar Rp 5.000,00. Tetapi kami masuk lewat pintu rahasia, jadinya gratis, hanya dikenakan Rp 1.000,00.

Sejarah Dibangunnya Monumen Pancasila Sakti
            Monumen ini di bangun pada lahan seluas 9 Hektar atas prakarsa Presiden Soeharto. Tujuan dibangunnya monumen ini untuk mengingat para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi Negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman komunis.
                Monumen ini terletak di kelurahan Lubang Buaya, kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Sebelum menjadi sebuah museum, tempat ini merupakan tanah kosong yang dijadikan sebagai tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September 1965(G30S). Dikawasan ini terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12m yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S yang berdiameter 75cm.
                Ada beberapa tempat bersejarah yaitu Museum Pengkhianatan PKI, Sumur Maut, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, Mobil peninggalan Pahlawan Revolusi & Museum Paseban.

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis)
                Museum ini menceritakan sejarah pemberontakan PKI yang bertujuan mengganti Pancasila dengan komunis yang bertentangan dengan Pancasila, sampai pada pemberontakan kedua yang terkenal dengan nama Gerakan Tiga Puluh September (G30S/PKI). Diawal pintu masuk kami disambut dengan banyak koleksi foto Pemberontakan PKI yang menceritakan tentang Pemberontakan PKI di berbagai Daerah Indonesia.

 Ini foto aku & Dwi saat di Museum Pengkhianatan PKI(Aku yang kerudung orange)
Kami(Dwi, Vivi, Ela).


Sumur Maut
                Sumur tua ini adalah tempat membuang 7 Pahlawan Revolusi : Jend. Anumerta  Ahmad Yani, Meyjen. Anumerta Donald Isaaccus Panjaitan, Letjen. Anumerta M.T. Haryono, Kapten CZI Anumerta Pierre Andreas Tendean, Letjen. Anumerta Siswandono Parman, Letjen. Anumerta Suprapto, Mayjen. Anumerta Sutoyo Siswomiharjo.




Rumah Penyiksaan
            Rumah ini adalah tempat Pahlawan Revolusi di siksa untuk menandatangani surat pernyataan mendukung komunisme di Indonesia, mereka di siksa sebelum akhirnya di bunuh, ditempat ini ditampilkan diorama penyiksaan 7 Pahlawan Revolusi beserta kisah Pemberontakan PKI. Kami mendengarkan penjelasan tentang peristiwa ini melalui suara rekaman yang berada disudut rumah ini. Dahulu tempat ini merupakan sebuah sekolah rakyat & dialih fungsikan oleh PKI sebagai tempat penyiksaan yang kejam.



Pos Komando
                Tempat ini adalah milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Tempat ini dipakai oleh pimpinan G30S/PKI(Letkol. Untung) merencanakan penculikan 7 Pahlawan Revolusi, didalamnya masih ada barang-barang yang menjadi saksi bisu kekejaman PKI seperti mesin jahit, lemari kaca, ranjang tidur , meja & kursi.

Dapur Umum
Tempat ini sebenarnya rumah, namun dialih fungsikan oleh PKI menjadi dapur umum. Rumah milik Ibu Amroh ini digunakan sebagai tempat sarana konsumsi anggota PKI. Ibu Amroh di suruh pergi meninggalkan rumah ini oleh PKI. Sehingga ia harus berjualan keliling. Namun saat pulang kerumahnya, rumah ini sudah dalam keadaan berantakan & banyak benda-benda yang hilang.

Museum Paseban
                Museum ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1981. Dalam ruangan ini terdapat beberapa diorama sebagai berikut :
1.       Rapat-rapat Persiapan Pemberontakan (September 1965)
2.       Latihan sukarelawan di Lubang Buaya (5 Juli-30 September 1965)
3.       Penculikan Letnan Jendral TNI Ahmad Yani (1 Oktober 1965)
4.       Penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober 1965)
5.       Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
6.       Pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi
7.       Proses lahirnya supersemar (11 Maret 1965)
8.       Pelantikan Jendral Soeharto sebagai Presiden (12 Maret 1967)
9.       Tindak lanjut pelarangan PKI (26 Juni 1982)

Ruang Relik
            Ruang ini adalah tempat dipamerkannya barang-barang terutama pakaian yang dikenakan saat Pahlawan Revolusi di culik, di siksa, sampai akhirnya di  bunuh. Ada bekas darah, baju yang tertembus peluru, serpihan peluru & foto-foto jenazah Pahlawan Revolusi saat diangkat dari sumur maut juga disertakan dengan hasil visum dokter.

Ruang Teater
                Ruang teater ini memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi, pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan lain-lain, masa pemutaran kurang lebih sekitar 30 menit. Namnu saat kami berkunjung, ruang teater ini sedang tidak beroperasi.

                Tergores pisau saja aku sampai menangis merasakan perihnya, apa lagi beliau para Pahlawan Revolusi yang disiksa secara kejam oleh PKI untuk mempertahankan Pancasila dari ancaman komunis. Aku merasa malu pada diriku sendiri, aku belum mampu apapun berkorban untuk mempertahankan Kemerdekaan Negeri tercintaku ini.

Ini foto kami saat berada di icon Monumen Pancasila Sakti
 
                Perjalanan kami berkililing berujung pada sebuah tempat yang banyak pohon rindang, disana kami duduk & mengobrol membicarakan tentang apa yang baru saja kami pelajari dari tempat bersejarah ini. Sampai aku merasakan perutku lapar & kami menuju keluar kawasan ini mencari penjual makanan. Setelah makan, kami memutuskan untuk pulang & beristirahat di rumah masing-masing.

           


               Ya Allah, berilah tempat terindah untuk beliau-beliau yang telah berjuang demi Bangsa ini. Mereka yang rela mengorbankan hidupnya demi kejayaan Negeri ini. Satu tetes darah mereka yang jatuh kemuka bumi ini adalah sejuta kesempatan Indonesia untuk tetap hidup bebas bersama ideologinya.
                Thanks to Allah swt, para Pahlawan Revolusi, Monumen Pancasila Sakti, Dwi & Ela yang membuat wisata ilmu kali ini menjadi wisata yang sangat berguna untuk membuatku semakin tahu tentang sejatrah Negeri ini & membangkitkan semangat untuk membela Bangsa ini.

Sabtu, 06 Juni 2015

Aku Sudah Berani Pulang ke Banyumas Sendiri Loh



              Fiiuuhhh, aku menyeka keringat yang mengalir di dahiku, keringat ini tak berhenti mengalir karena terik matahari siang ini. Namun semangatku takkan pudar, dengan membawa berkas-berkas untuk melamar kerja sebagai penjaga toko yang sudah aku targetkan dari jauh-jauh hari. Aku berjalan dengan sangat pasti menuju arah mall terdekat dengan tempat tinggalku. Hari ini mulai libur semesteran, 2 minggu adalah waktu yang membosankan jika aku hanya mengurung diri di rumah. Aku pikir, dengan bekerja akan mengisi kegiatanku & aku akan mendapatkan penghasilan tambahan saat liburan.
                Keringat perlahan mengering setelah aku mulai melewati ruko demi ruko. Udara AC membuatku sedikit nyaman terhindar dari panas yang tadi sempat aku rasakan. Mataku menulusuri tulisan “Dibutuhkan karyawati, dengan persyaratan bla..bla..bla..”. Yappss aku melihatnya, aku menemukannya. Dengan semangat aku mengampiri ruko itu. Banyak sekali baju-baju yang bergantung disana, terdapat seorang wanita muda berkulit gelap dengan rambut keriting diikat sedang menata baju-baju. Aku menghampirinya, ia menoleh mendengar langkah kakiku. Ia tersenyum & memulai pembicaraan.
                “Iya dik. Ada apa ?” Sejenak ia berhenti bekerja. Pandangannya mengisyaratkan sebuah keingintahuan.
                “Saya lihat tulisan di depan ruko ini mba. Dibutuhkan karyawati & saya bersedia untuk bekerja disini.” Aku berbicara dengan sangat hati-hati, ini pengalaman pertamaku melamar pekerjaan. Aku masih berusia 15 tahun saat itu. Aku takut, bahkan sangat takut ditolak.
                “Sebentar, saya boleh liat berkas-berkasnya ?” Akupun menyodorkan map yang sedari tadi menjadi teman perjalananku.
                Ia membuka-buka map itu dengan seksama & teliti. Tak lama datanglah seorang wanita cantik, berkulit putih langsat, berambut pendek, sangat mirip dengan kakak sepupuku dikampung.
                “Mbak, ini ada yang mau melamar pekerjaan. Berkasnya lengkap.” Kata mbak yang berambut keriting memberi mapku ke mbak yang cantik itu.
                “Ini belum lengkap, pas fotonya mana ?” Ooopss iya, aku lupa mencetak foto. Ya Tuhan. Mengapa harus kelalaian seperti ini.
                “Emm. Yasudah mbak, saya mau mencetak foto dulu. Nanti saya kesini lagi. Bagaimana ?” Aku sedikit panik, namun tetap mampu mengendalikan ekspresi wajahku. Aku menampilkan bahasa tubuh sebaik mungkin, sesantun mungkin, agar aku dapat diterima bekerja disini.
                “Baiklah, saya tunggu ya dik.” Mba yang cantik itu pun tersenyum sambil mengembalikan berkas-berkasku.
                Aku berlalu dari ruko itu, agak sedikit tergesa, aku menuju ke lantai dasar mall untuk mencari pintu keluar dari mall. Aku menuju tempat cetak foto disebrang jalan. Nafasku sedikit tersengal sambil membuka foto mana yang akan aku cetak. Setelah foto selesai dicetak, aku kembali berlari menyebrang jalan & mencari ruko yang tadi.
                “Ini mbak, saya sudah cetak fotonya.” Aku kembali memberikan map itu.
                “Oke, sudah lengkap. Besok kamu bisa mulai bekerja ya. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu ngga sekolah ?” Mbak itu bertanya dengan penuh selidik.
                “Saya sedang libur sekolah mbak, jadi dari pada dirumah, saya memilih bekerja.” Aku menjawab dengan nada yang tenang, tak lagi terdengar tergesa-gesa.
                “Oooh, jadi kamu masih sekolah. Saya kira kamu udah selesai sekolah. Kalau begitu maaf dik, ngga bisa kerja disini. Soalnya saya sedang mencari karyawati tetap.” Jueegeerr berasa ada petir  menyambar perasaanku saat itu.
                Aku pamit dengan rasa kecewa. Setiap aku melihat lowongan, yang ada kebanyakan karyawannya pria. Huuufftt, lelah hari ini tak berarti apa-apa. Saat perjalanan pulang, aku teringat ibu & adikku yang ada di kampung. Bu, aku rindu padamu ibu, setengah tahun ini aku tak berjumpa denganmu, tidak merasakan lezatnya masakan buatanmu, tidak pergi berkebun berdua denganmu lagi. Bu, betapa aku merindukan semua itu.
                Adikku, betapa aku juga merindukanmu, aku rindu saat berkelahi denganmu, aku rindu shalat berjamaah disampingmu, aku merindukan mengajarimu matematika, aku rindu bermain sepeda berdua dengamu. Tuhan, mengapa aku harus dipisahkan dengan saudaraku. Terbesit dipikiranku, kenapa aku tidak pulang kampung saja ya ? Aku punya sedikit uang simpanan, jika digunakan untuk pergi ke kampung halaman ya cukuplah. Entah mengapa, perasaan itu terus mendesakku untuk mewujudkan keinginan itu. Tapi dengan siapa aku akan kesana ? Ayahku ? Ah tidak mungkin, beliau tidak mungkin mau meninggalkan pekerjaannya hanya untuk sekedar menemaniku berlibur. Sendirian ? Aku hanya anak kecil berusia 15 tahun yang tidak tahu apa-apa, ayahku pasti tidak mengizinkan untuk itu.
                Aku membuka pintu rumah, aku duduk di ruang utama rumah kecil ini. Rumah kontrakan, bila masuk langsung kamar tidur. Aku duduk di kasur dengan pikiran yang masih memikirkan tentang keinginanku untuk pulang ke kampung halaman, Banyumas. Ugghh keinginan ini begitu menggebu. Tinggal di kota Jakarta selama 6 bulan ini sangat membosankan.
                Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke Banyumas tanpa berpamitan dengan ayahku. Maafkan aku ayah, aku sangat rindu dengan ibu & adikku, aku pergi hanya 2 minggu kok yah. Aku merencanakan ini dengan sangat matang. Aku akan pergi besok pagi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                Suara gemericik air terdengar, rupanya ayahku sedang mandi. Ini masih sangat pagi. Pukul 03.30. Tidurku tidak nyenyak memikirkan datangnya hari ini. Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidur agar ayahku tidak curiga. Ayahkupun berangkat bekerja. Pekerjaannya sebagai cady golf memang mengharuskannya berangkat sangat pagi untuk mengantri mendapatkan pemain.
                Aku bangkit dari tempat tidur, segera menaruh beberapa pakaian yang hendak aku bawa. Aku bergegas masuk kamar mandi. Byuurr.. Brrrr dinginnya membuatku menggigil, namun rasa menggigil itu telah terkalahkan oleh rasa semangatku bertemu dengan ibu & adikku.
                Aku berdiri hampir tepat di pintu. Bismillahirahmanirahim. Dengan doa & keberanian yang kuat, akupun berjalan menuju pertigaan garuda untuk menuju terminal Kampung Rambutan dengan menaiki angkot bernomor 40. Aku tak berhenti mengucapkan lafadz Allahu Akbar untuk keselamatanku saat dalam perjalanan.
                Kakiku telah menginjak terminal ini, terminal yang biasanya ku singgahi bersama dengan ayah, ibu & adikku. Namun kini aku sendiri, aku merasa bersombong pada diriku sendiri. Aku sudah besarkan ? Aku sudah dewasa sekarang.
                Aku berjalan menuju tempat bis yang berjejer rapi dengan armada yang berbeda-beda. Terlihat banyak sekali pedagang kaki lima & pedagang asongan yang menawarkan dagangannya. Aku tidak mempedulikan mereka. Tiba-tiba ada seorang bapak berusia sekitar 35 tahun menggunakan topi menghampiriku.
                “Neng, mau kemana neng ?” Bapak ini terus mengikutiku. Sedikit risih juga sih.
                “Purwokerto.” Aku menjawab singkat. Aku takut. Aku tak begitu mempedulikannya.
                “Ohh Purwokerto, sini neng ada bis yang mau kearah sana. Beli tiketnya di saya.” Bapak itu berbicara dengan nada yang ku artikan serius.
                Akupun percaya padanya, aku mengikutinya. Ia mengambil selembaran yang ia sobek dari buku tiket. Ia pun menuliskan harga Rp 200.000,00. Sontak aku kaget. Sepengetahuanku, jika ibu membeli tiket jurusan Purwokerto paling mahal seharga Rp 65.000,00. Aku berulang kali menawar hingga kami menyepakati harga Rp 100.000,00 untuk satu tiket. Sebenarnya masih terlalu mahal bagiku. Tapi yasudahlah, yang penting aku dapat sampai di Banyumas dengan selamat. Bapak itu berlalu dengan gerak-gerik mencurigakan. Aku memanggilnya hingga ada seorang pemuda menghampiriku.
                “Kenapa dik ?” Dia sedikit berlari menghampiriku yang masih kebingungan.
                “Eeeeee. Itu mas, kayaknya saya ditipu deh sama bapak itu. Saya ditinggal sendirian & saya tidak dikasih tau bisnya yang mana.” Wajahku panik saat itu. Haduuh, dasar anak kecil. Berani-beraninya pulang kampung sendiri. Begini kan jadinya.
                Mas-mas itupun mengejar bapak yang tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya berharap bahwa mas-mas yang satu ini baik padaku. Ia pun kembali, ia bicara bahwa bapak tadi itu calo, sebenarnya busnya ada tapi berangkatnya besok sore. Sedangkan harga tiket sebenarnya hanya Rp 45.000,00. Astahgfirullah. Yang aku sayangkan, masih saja ada orang mencari uang dengan cara tidak halal.
                Aku diantarkan menuju bis yang akan segera berangkat kearah Purwokerto. Ternyata mas-mas ini orang baik, terlihat dari saat dia menolongku tadi, dari cara ia berbicara & alhamdulillah ya Allah aku tak berhenti bersyukur, aku dipertemukan dengan orang baik ini. Jika tidak ada dia, aku pasti gagal berangkat ke Banyumas pagi ini. Aku duduk di bangku ke-3. Suasana dalam bus masih sepi, ada satu keluarga yang sedang menata barang-barangnya. Aku memperbaiki posisi dudukku senyaman mungkin.
                “Lain kali hati-hati ya dik. Jangan mudah percaya pada orang. Yaudah buat pelajaran aja ya.” Aku memperhatikannya menasehatiku, rasanya seperti dinasehati oleh kakak sendiri. Aku berucap terimakasih padanya sebelum ia turun dari bus yang kunaiki. Huuff.. Aku dapat bernafas lebih lega sekarang. Sembari menanti bus berangkat, aku mendengarkan beberapa musik yang ada di ponselku untuk menghilangkan kejenuhan.  Kursi disampingku belum ada yang menduduki, tidak begitu banyak penumpang yang ingin kearah Purwokerto. Sekeluarga yang tadi sedang membereskan barang, kini sedang duduk santai bercanda dengan anaknya.
                Sopir buspun naik tepat berhadapan dengan kemudinya. Bismillah.. Bus berangkat. Ibu, anak wadonmu yang manis ini pulang. Hahaha.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                Aku terbangun dari tidurku, rupanya sudah sekitar 3 jam aku terlelap di bus ini. Seketika aku merasakan gerah, panas, sumpek & keringat sudah membasahi kerah bajuku. Aku menyekanya dengan sapu tangan yang kubawa dari rumah tadi. Perjalanan macet, antrian kendaraan sangat panjang terlihat saat aku sedikit menggeser posisi dudukku agar bisa sedikit melihat keadaan di depan. Terdengar keluarga itu berbicara bahwa ada kerusakan jalan yang menyebabkan kemacetan.
                Oh Tuhan. Kalau begini bisa sampai Banyumas malam hari. Kepalaku pusing, perutku mual berasa ingin muntah. Ibu, aku mabuk perjalanan. Andaikan kau ada disampingku. Aku tak  mampu apa-apa tanpamu. Sadar bahwa betapa pentingnya seorang ibu bagi hidupku. Aku melihat tangan yang mengulurkan minyak kayu putih. Lagi-lagi aku bertemu dengan orang baik.
                “Ini dik, dipakai dulu. Semoga bisa membantu.” Aku menerimanya dengan mengucapkan terimakasih. Aroma minyak ini melegakanku. Jauh lebih baik dari pada tadi.
                Tengtong. Ada pesan dari ayahku. “Vi, kamu kemana ? Mau pergi ngga pamit ayah dulu.” Aku membalasnya “Iya ayah, ini lagi dirumah teman. Sebentar lagi Vivi pulang.” Maaf ayah, Vivi harus berbohong padamu kali ini.
                Perjalanan ini sangat membosankan, sangat menyebalkan, namun demi obat rinduku aku berusaha tidak cengeng & mengeluh. Satu jam kemudian ayahku sms lagi. Mungkin beliau sudah khawatir anak perempuannya tak juga pulang. “Vi, Lagi dimana ? Katanya kamu lagi pulang.” Saat aku membaca sms dari ayahku, sms kedua muncul. Kali ini dari ibuku. “Vi, kamu kemana. Tadi ayah telfon ibu. Katanya kamu belum pulang.” Belum sempat aku membalasnya, ibuku menelfonku. Ya Tuhan, aku harus menjawab apa ini. Aku ingin memberinya kejutan bahwa aku pulang ke Banyumas. Tapi.. Ah sudahlah. Aku putuskan untuk mengangkat telfonnya.
                Aku mendengar suara ibuku mengomel, sangat jelas nada suaranya yang mengartikan bahwa ia mengahawatirkan aku. Dengan pasrah, akhirnya aku berkata bahwa aku sedang dalam perjalanan pulang ke Banyumas.
                Bus ini membawaku kembali ke tempat kelahiranku sekaligus masa kecilku. Setelah berjam-jam duduk dalam bus yang sumpek ini akhirnya aku sampai di gubukku. Gubuk lumayan besar lebih besar dari kontrakan di Jakarta, namun masih berdinding kayu yang membuatku selalu rindu ingin kembali kesini. Aku melihat adikku diruang tamu sedang menonton televisi. Akhirnya aku bertemu lagi dengan adikku yang tampan ini. Sekarang tepat pukul 10 malam. Ternyata mereka belum tidur menanti kedatanganku. Ada ibu, adik, mbah kakung & putri, uwa & kakak sepupuku.
                Mereka tersenyum menyambut kedatanganku. Jauh dari perkiraanku. Aku pikir mereka akan memarahiku. Aku menyalami tangan mereka satu persatu. Subhanallah. Bahagia sekali aku sekarang bisa pulang kembali ketempat dimana aku dilahirkan. Ya Allah, aku bahagia memiliki keluarga ini. Betapa aku sayang pada mereka, berikan aku kesempatan membahagiakan mereka, jagalah mereka saat aku jauh dari mereka ya Allah ya Rabb.
                Seperti dulu, terdengar suara gendhingan Jawa yang membuat hati ini tentram mengantarkan aku pada istirahat yang indah malam ini. Aku sangat nyaman dengan suasana tenang dikampungku ini. Akupun istirahat dikamarku yang sudah setengah tahun ini tidak kutiduri. Kamarnya bersih, sepray volcadot pink favoritku sudah disiapkan oleh ibuku. Meja belajar ada disamping tempat tidurku, meja yang menjadi saksi kerja keras belajarku pada masa SD & SMP kini masih terawat rapi. Gitar akustik yang ibu belikan untukku dulu juga tersimpan rapi dipojokan kamar. Aku segera mensucikan diri dengan mandi & shalat isya. Setelah itu, aku berbaring dikamar tidurku. Dua minggu kedepan aku akan mengahabiskan waktu yang indah bersama dengan orang-orang yang aku sayang. 

Selamat bermimpi indah Sylviani Oktavia…